Cerita Seks

Cerita Seks, Cerita Bokep, Cerita Porno, Cerita Ngentot

Live Casino Bandarq Dominoqq Domino99 Agen Bola Bandarkiu

Cerita Porno Putri Sulung Ku Yang Manis

Cerita Porno Putri Sulung Ku Yang Manis

Cerita Porno Putri Sulung Ku Yang Manis

Cerita Porno Putri Sulung Ku Yang Manis

Cerita Porno Putri Sulung Ku Yang Manis Belum lama ini saya kembali bersua Nana (bukan nama hakekatnya). Dia sekarang telah berkeluarga dan semenjak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, dia bersama si kecilnya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya.

Nana masih seperti dahulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga senantiasa di atas bahu. Sedangkan rambutnya agak kemerahan tetapi sebab kulitnya yang putih bersih, senantiasa saja menarikdipandang, apalagi seandainya berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan momen sepuluh tahun lalu saat dia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, dia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. rumah bude waktu itu kami jarang ketemu Nana.

Saya mengenalnya semenjak kanak-kanak. Dia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun sesudah saya menikah, isteriku melahirkan buah hati kami yang pertama. Relasi kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan semestinya dirawat di rumah sakit lebih lama daripada buah hati kami. Sungguh repot semestinya merawat bayi di rumah. Sebab itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan menyenangi rela bergiliran menolong kerepotan kami. Seluruh berlalu selamat hingga isteriku dibolehkan pulang dan lantas dapat merawat dan menyusui buah hati kami.

Hari-hari selanjutnya, Nana masih acap kali datang menengok buah hati kami yang katanya indah dan lucu. Malah, heran mengapa, bayi kami benar-benar lekat dengan Nana. Sekiranya sedang rewel, menangis, meronta-ronta seandainya digendong Nana menjadi membisu dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, seandainya ada waktu, Nana senantiasa mampir dan menolong isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana acap kali tinggal di rumah kami. Isteriku benar-benar berbahagia atas bantuan Nana. Tampaknya Nana ikhlas dan tulus menolong kami. Apalagi saya semestinya kerja sepenuh hari dan acap kali pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang bandelnya. Nana mulai tak banyak mampirke rumah. Isteriku juga kian sehat dan dapat mengurus segala kebutuhannya. Tetapi suatu malam saat saya masih asyik menuntaskan profesi di kantor, Nana tiba-tiba timbul.

Baca Juga >Cerita Porno Masih Perawan Tapi Pernah Menikah

 

“Ada apa Na, malam-malam seperti ini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kau?”
“Sengaja kemari.”
Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping tempat duduk kerja. Nana kelihatan mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.

“Ada apa, Nana?”
“Mas.. saya pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Nana tak menjawab namun bahkan melangkah kakinya yang putih mulus sampai berdiri persis di depanku. Dalam sekejap dia telah duduk di pangkuanku.
“Nana, apa-apaan kau ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Nana telah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini cuma bisa kupandangi dan bayangkan, sekarang benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan napas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan kencang dan berdansa lincah dalam rongga mulutku. Dia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Saya berupaya melepaskannya tetapi sandaran tempat duduk menghambat. Lebih dari itu, terus jelas ada rasa enak sesudah berbulan-bulan tak berkaitan intim dengan isteriku. “Mas, saya senantiasa ketagihan Mas. Saya menyenangi berkaitan dengan laki-laki, pun sebagian dosen sudah kuajak beginian. Tak bercinta sebagian hari saja rasanya badan panas dingin. Saya belum pernah menemukan laki-laki yang tepat.”

Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Saya bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Saya mengunci dan menutup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, saya malah kelaparan. Telah empat bulan tak bercinta dengan Tari.”
“Jadikan saya Mbak Tari, Nana sambil kebawah dari table dan mengarah langkahku.
Dia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya merekat di dadaku. Terasa pula penisku yang sudah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbalut celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir seniman tenar. Aliran listrik seakan menjalar ke segala tubuh. Saya semula ragu menyambut keliaran Nana. Tetapi saat kenikmatan tiba-tiba menjalar ke segala tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.

“Kau sungguh-sungguh bergairah, Nana..” bisikku lirih di alat pendengarnya.
“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Saya hakekatnya mengharapkan Mas semenjak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas.. teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kau inginkan dari Mas?”
kata Nana sembari tangannya memegang dan mengelus kemaluanku. lidah nya terus menempel di kulitku di wajah , dada. Pelan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik pelan ke arah atas dan serta merta tangan Nana sudah diangkat pedoman minta T-Shirt lantas dibuka saja. T-shirt itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku lantas memeluknya kuat-kuat sampai badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya merekat kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang berlokasi di punggungnya. Kulepas pelan, talinya, kuturunkan lewat tangannya. BH itu kesudahannya jatuh ke lantai dan sekarang ujung payudaranya merekat lekat ke arahku. Saya melorot pelan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh peluh Nana, tetapi menambah enak bebauan gadis muda.

Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku supaya mulutku langsung menyedot putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Saya memenuhi permintaannya dan Nana tidak kuasa membendung kedua kakinya. Dia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas..” katanya sambil tengadah di lantai. Nana minta saya melepas baju. Nana sendiri malah melepas rok dan celana dalamnya. Saya malah berperilaku demikian tetapi masih kusisakan celana dalam. Nana memandang dengan pandangan mata sayu seperti tidak tabah menunggu. Seketika saya menyusulnya, tiduran di lantai. peluk tubuhnya dari arah depan kugosokkan tanganku ke arah pentil nya . Nana sedikit kemudian sedikit membengkok kan tubuhnya ke depan ku . Sengaja dia langsung memberi nasihat putingnya ke mulutku.

“Mas sedot Mas.. teruskan, nikmat sekali Mas.. nikmat..” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat bokongnya. Tanganku mulai jahil mencari selangkangan Nana. Rambutnya tak terlalu tebal tetapi datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana menonjol sedikit tersentak. “Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tidak terang. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di sentra kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku sudah menempuh gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari kadang-kadang menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik ritme.

Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh enak. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh..” Sejenak kemudian Nana lemas. Tetapi itu tak berlangsung lama sebab Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan supaya mudah dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Beriringan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Walhasil, memukul ke arah wajah Nana. “Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Nana terkejut. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Nana lantas meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

“Mas.. ini orisinil?”
“Orisinil, 100 persen,” jawabku.
Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar kencang ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di komponen samping kanan kelihatan nampak aliran otot keras. Komponen bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membikin perempuan bertambah enak menikmati tikaman senjata andalanku.

“Mas, belum pernah saya memandang penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Kini kau memandangnya, mengontrolnya dan menikmatinya.”
“Betapa bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kau pengin seperti ia, kan?”
Nana lantas menarik penisku. “Mas, saya mau kencang menikmatinya. Masukkan, kencang masukkan.”
Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya dibentangkannya. Tampak alangkah mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, kelihatan lubang Miss V yang imut. Saya sudah berada di antara pahanya. Exocet-ku sudah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.

“Pesat Mas, kencang..”
“Tabah Nana. Kau semestinya benar-benar terstimulus, Sayang..”
Tetapi tampaknya Nana tidak tabah. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Ia tidak mau dicumbui dahulu sebelum dirasuki penis pasangannya. “Pesat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan pelan tetapi sungguh sungguh-sungguh susah masuk, kuangkat kembali tetapi Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Bokongnya sendiri ditunjang ke arah atas. Tidak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Tetapi Nana tampaknya mau main kasar. Saya malah, meskipun belum terstimulus benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Sedangkan pelan bisa memasukirongga vaginanya, tetapi terasa benar-benar sesak, seret, panas, perih dan susah. Nana tak gentar, bahkan menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, azab saya. Azab.. tikam saya. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan saya tidak dapat menghindar. Kulesakkan keras sampai setengah penisku sudah masuk. Nana menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan saya menekannya kuat-kuat. Beriringan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam Miss V Nana, meleleh keluar. Saya melirik, darah.. darah segar. Nana membisu. Napasnya terengah-engah. Matanya memejam. Saya membendung penisku konsisten menancap. Tak turun, tak juga naik. Untuk mengurangi keinginan nya , kumainkan ujung pentil nya Nana dengan mulutku. Sedangkan agak membungkuk, saya bisa menempuhnya. Nana sedikit berkurang ketegangannya.

Sebagian ketika kemudian dia memintaku mengawali kegiatan. Kugerakkan penisku yang cuma setengah jalan, turun naik dan Nana mulai menonjol menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tak sebuas tadi. Dia merasakan melodi keluar masuk di liang alat kelaminnya yang mulai berair dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada kesudahannya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya..” Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Saya duduk di samping Nana yang terkulai.

“Nana, mengapa kau?”
“Lemas, Mas. Kau sungguh-sungguh perkasa.”
“Kau juga liar.”

Nana memang acap kali berkaitan dengan laki-laki. Tetapi belum ada yang sukses menembus keperawanannya sebab selaput daranya sungguh-sungguh tebal. Tetapi perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Sinting memang buah hati itu, kencang panas.

Semenjak kejadian itu, Nana senantiasa mau mengulanginya. Tetapi saya senantiasa menghindar. Cuma sekali momen itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni keinginannya dengan semua gaya. Nana mengaku puas.

Sesudah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Semenjak itu tak ada beritanya. Dan, saat pulang ke Yogya bersama si kecilnya, saya bersua di rumah bude.
“Mas Danu, berkeinginan nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Saya cuma mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menarik hati.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, saya menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan malah kembali terjadi dalam posisi sama-sama sudah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari telah dapat digunakan belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berdusta.
Dan, Nana malah malam itu mencoba melayaniku sampai kami sama-sama terpuaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerita Seks © 2020 Frontier Theme
%d bloggers like this: