Cerita Seks

Cerita Seks, Cerita Bokep, Cerita Porno, Cerita Ngentot

Live Casino Bandarq Dominoqq Domino99 Agen Bola Bandarkiu

Cerita Bokep Pengantin Bersama Menantu Seksi

Cerita Bokep Pengantin Bersama Menantu Seksi

Cerita Bokep Pengantin Bersama Menantu Seksi

Cerita Bokep Pengantin Bersama Menantu Seksi

Cerita Bokep Pengantin Bersama Menantu Seksi Dina mematut diri di depan cermin, Dia merupakan hari yang paling di nantikannya, hari pernikahannya, Ada banyak alasan mengapa alhasil ia bersedia menikah dengan Doni. Dan seks merupakan salah satunya, meski Doni cuma memiliki sebuah penis yang kecil saja. Melainkan seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan meski semenjak Doni sudah menyematkan sebuah cincin berlian di jarinya. Ia merasa bersalah dan memerlukannya dalam waktu yang beriringan, tiap kali ia menikmati cincin hal yang demikian di jarinya dikala lelaki lain sedang meyetubuhi vaginanya yang dijanjikannya cuma untuk Doni.

Keragu-raguan itu cuma bertahan untuk sebagian dikala saja. Tangan Darma menarik kaitan itu kian ke atas dikala calon istri si kecilnya meneruskan mengangkat gaun pengantinnya kian naik. Ia menelan air liur membasahi tenggorokannya yang terasa kering dikala alhasil kaitan itu terpasang pada tempatnya di komponen paling atas stockingnya. Ia yakin bisa mengecup wangi-wangian dari Miss V Dina kini, yang membikin jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Tangannya stop, kaitan stocking itu melingari komponen atas paha Dina… dan ia menikmati komponen gaun pengantin itu terjatuh dikala Dina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih komponen belakang kepalanya dan memberi bimbingan wajah Papah calon suaminya mendekat ke vaginanya, dan Darma menemukan tidak ada celana dalam yang terpasang di sana.

Ia ingat dikala malam dimana Doni melamarnya. Ia tersenyum, mengangguk dan berkata “ya”, mengecupnya dan merasakan bagaimana nyamannya rasa mengaplikasikan cincin berlian yang benar-benar mahal hal yang demikian. Dan sesudah makan malam bersama Doni itu, ia segera menghubungi Alan, semacam itu kendaraan beroda empat Doni sirna dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Dina menunggu Alan dengan tanpa mengenakan selembar pakaianpun untuk menutupi tubuhnya yang terbaring menunggu di atas daerah tidurnya, cincin berlian yang baru saja diberi oleh Doni merupakan satu-satunya benda yang menempel di tubuh telanjangnya. Ada desiran aneh terasa dikala matanya menangkap kilauan cincin berlian itu waktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar dikala tangannya meliputi kedua payudaranya dengan air mani Alan yang melumuri cincin itu. Dan oergasme yang diraihnya malam itu, yang tentu saja bersama lelaki lain kecuali tunangannya, benar-benar hebat – tangan yang tidak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan pesat meski ia menjilati air mani Alan yang berada di cincin berliannya. Ia menjadi ketagihan dengan hal ini dan berencana akan mengerjakannya lagi nanti pada waktu upacara perkawinannya nanti.

Ketika ini, ia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin mengenakan gaun pengantinnya. Ia kelihatan indah, dan ia sadar akan hal itu. Dina tersenyum. dan memhayal pada upacara perwakinan sahabat dia akan banyak yang hadir dan akan banyak lelaki lain yang akan dipilihnya salah satunya untuk memenuhu fantasi liarnya. Vaginanya berdetak, dan ia membayangkan apa yang akan dilaksanakannya untuk membikin hari ini lebih lengkap dan total, dikala lonceng berbunyi nanti.

BACA JUGA > Cerita Bokep Merasakan Lubang Kencing Perawan

Ketika ia membuka pintu, Papah Doni, Darma, sedang berdiri di sana, bersiap untuk menjemputnya dan memandunya ke gereja. Dina menarik napas dalam-dalam. Ia tahu lelaki di hadapannya ini benar-benar merangsangnya – sebagian bulan akhir-akhir ini ini ia sudah berupaya untuk menggodanya, dan ia pernah mendengar lelaki ini mengerjakan masturbasi di kamar mandi dikala ia datang berkunjung ke rumah Doni, menyebut namanya. Dina belum pasti apakah gampang nantinya untuk menarik hati Darma supaya alhasil berkeinginan bersetubuh dengannya, tetapi kini ia akan mencari tahu perihal hal hal yang demikian. Ia tersenyum lebar dikala menangkap mata Darma yang manatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat untuk sebagian dikala.

ayah tegurnya, dan memberikan sebuah ciuman di pipinya. Parfumnya yang menarik hati menyelimuti penciuman Darma. “Papah datang terlalu pesat, saya belum siap. Melainkan Papah bisa membantuku.” Digenggamnya tangan Darma dan menariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya, daerah yang akan seketika ditinggalkannya nanti sesudah menikah dengan Doni.

Darma menirunya dengan dada yang berbar cepat. Dia merupakan dikala yang diimpikannya. Ia heran bagaimana si kecilnya yang pemalu dan dapat dikatakan kurang pergaulan itu bisa menikahi seorang wanita menawan dan menarik hati seperti ini, tetapi ia bahagia sebab nantinya ia akan memiliki lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengan wanita ini. “Apa yang dapat ku tolong?”

Dina stop di ruang tengahnya yang nyaman lalu duduk di sebuah meja.

“Dia belum memasang kaitan stockingku… dan kini, dengan baju ini… saya kesusahan untuk memasangnya.”

Suaranya terdengar manis, tetapi matanya berkilat liar menarik hati. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya, kakinya yang dibungkus dengan stocking putih dan sepatu bertumit tinggi segera terpampang.

“Bisakah Papah membantuku memasangnya?”

Darma ragu-ragu untuk sebagian waktu. Jantungnya berdenyut kian pesat. Apakah ini sebuah “undangan” untuk sesuatu yang lain lagi, ataukah cuma sebuah permintaan bantu yang awam saja? Ia mengangguk.

tentu ia bersejud di hadapan istri si kecilnya meraih kaitan Jemarinya sedikit gemetar dikala Dina dengan perlahan mengangkat kakinya . Darma berupaya untuk memasangkan kaitan stocking itu.

Dina menggigit bibir bawahnya menarik hati, dan lebih menaikkan gaunnya, menonjolkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih. Ia bisa menikmati sebuah perasaan yang tidak asing mulai bergejolak dalam dadanya., sebuah tekanan enak yang membikin napasnya kian sesak, membikin napasnya kian memburu, dan membuatnya kian melebarkan kakinya. Ia bisa menikmati cairannya mulai membasahi. Kaitan itu alhasil terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tidak yakin apakah ia telah memasangkan dengan benar.

“Papah, wajib lebih ke atas lagi…” tangan calon Papah mertuanya yang berada sedikit dibawah vaginanya membuatnya menjadi berdetak dengan liar.

Dina melenguh dan memejamkan matanya dikala harapannya terkabul. Darma tidak memprotes atau menolaknya, lidahnya menjilat ideal pada bibir vaginanya, dan Dina kian berair dengan cairan gairahnya. Dengan sebelah tangan yang masih membendung gaun pengantinnya ke atas, dan yang satunya lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, ia mulai menggoyangkannya pelan. Dia serasa di surga, dan menyadari apa yang diperbuatnya ideal di hari pernikahannya membikin tubuhnya kian menggelinjang. Ia mengerang dikala lidah Darma menjelang lubangnya, dan lidah itu mulai bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya, wajah Darma belepotan dengan cairan kewanitaan calon istri si kecilnya di ruang tengah rumah kontrakannya.

Saya Dina menggelinjang, kian keras pula Darma menghisapnya.

“Oh ya Papah… jilat vaginaku… buat saya orgasme sebelum saya menyuarakan janjiku pada putramu… kumohon…”

perasaan salah akan apa yang mereka perbuat membikin Dina dengan pesat meraih orgasmenya, dan hampir saja ia rubuh menimpa Darma. Dia bukan seperti orgasme yang awam diraihnya, ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut tiap sel kenikmatan dari dalam tubuhnya.

Cairan Dina terasa enak pada lidah Darma, ia menjilat dan menghisap vaginanya seperti seorang lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pre cum nya membasahi komponen depan tuxedonya.

Dina kembali menggelinjang, lalu dengan perlahan bergerak mundur, memperkenankan gaun pengantinnya menutupi Papah Doni. Lalu ia membuka resleting di komponen belakang gaunnya dan membolehkannya jatuh menuruni tubuhnya. Ia melangkah keluar dari tumpukan gaun pengantinnya yang terkapar di atas lantai, cuma mengenakan sepatu bertumit tingginya, bra, dan tentu saja stocking beserta kaitannya yang baru saja dipasangkan Darma pada pahanya. Dina tersenyum padanya, vaginanya berkilat dengan cairannya.

“Dia akan ke kamar mandi untuk membenarkan make-up, bila Papah membutuhkan sesuatu…” ia berkata dengan mengedipkan matanya. Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu, semacam itu feminim dan menarik hati. Tidak sebagian detik kemudian ia menyusulnya.

Ketika ia menjelang kamar mandi dan berdiri di depan sebuah cermin di atas washtafel, dan telah mengenakan sebuah celana dalam berwana putih. Darma tahu bila ini merupakan salah satu godaannya yang manis, dan ia sudah siap untuk bermain bersamanya.

Dina memandangnya masuk, dan dengan sebuah gerakan yang menawan membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya, mata mereka saling terkunci dalam masing-masing bayang-bayangnya dalam cermin. Tangan Darma bergerak ke komponen depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Dina tersenyum. “Melainkan Papah, bukankah ini tidak cocok dilaksanakan oleh seorang Papah calon pengantin pria?”

Darma melihat bibir Dina yang membuka sambil ngomong ,hembusan hangat , dengan tangannya yang meremasi payudaranya dalam balutan bra. “Dia se cocok apa yang akan kulakukan padamu.”

Dina menggigit bibirnya dan menyokong bokongnya menekan penisnya yang mengeras.

“Dia nggak tabah,” bisiknya.

Vagina kemudian Dina menikmati tangan calon Papah mertuanya berada di belakangnya dikala ia melepaskan sabuk dan memperkenankan celananya jatuh turun. Dengan gampang tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Dina menarik napas dalam-dalam dikala ia menikmati daging kepala penisnya menekan bibir vaginanya yang masih berair.. Ia mengerang dan memegangi tepian washtafel dikala dengan pelan Darma mulai mendorongkan batang penis itu memasukinya. Dina menikmati bibir vaginanya menjadi terdorong ke dalam, menikmati dinding komponen dalamnya melebar untuk menerimanya.

“Apa ini terasa lebih bagus dari penis putaku?” Darma tersenyum puas. Ia tahu se berapa ukuran penis putranya, dan ia yakin bila putranya mewarisinya dari garis ibunya. Tapi calon istri putranya terasa benar-benar menakjubkan pada batang penisnya, dengan pesat ia sadar bila ia cocok untuk menyetubuhi calon menantunya lebih sering kali dibandingi putranya. Dan ia menerima firasat bila ia dapat mengerjakannya kapan saja mereka mempunyai kans.

“Oh brengsek ayo berikan saya yang terbaik untuk pernikahanku sama putra mu.” ia lebih menunduk ke bawah, dan menikmati tangan Darma pada badan nya . Ia mencengkeramnya dengan erat dan mulai memompanya keluar masuk. Mereka sadar akan telat menghadiri upacara pernikahan, tetapi Darma memutuskan Miss V sang mempelai wanita benar-benar berdetak menghisap sehabis persetubuhan keras yang lama. Dina mulai membalik dan menjerit mengimbangi gerakannya. dia saling memandangi bayang mereka berdua di dalam cermin dikala menyalurkan nafsu terlarang mereka.

Dina merasa teramat benar-benar bandel, disetubuhi dengan cocok dan keras oleh Papah calon suaminya ideal sebelum upacara pernikahannya. Darma menikmati vaginanya mengencang pada batang penisnya, dan kali ini, ia merasa segala tubuh Dina mengejang sepanjang orgasmenya. Kamu ini merupakan panorama terindah yang pernah disaksikannya, punggungnya melengkung ke belakang ke arahnya seperti sebuah busur panah yang dibentangkan, matanya melotot menawan, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma malahan bisa menikmati pancaran dari orgasmenya menjalari batang penisnya dikala ia konsisten menyetubuhinya.
sampai ia nyaris di atas washtafel, terasa kelelahan untuk orgasme lagi. Melainkan Darma tahu bagaimana membawanya ke sana.

“Pelan menginginkan spermaku, iya kan, Dina? Pelan mau supaya saya mengisimu dan membikin vaginamu terlumuri spermaku yang telah mengering dikala berjalan di altar pernikahanmu, benar kan wanita jalangku?”

“Oh ya… yaaa!” sang pengantin wanita mulai kesusahan bernapas, dan Darma bisa merasakannya menyempit. Darma melesakkan batang penisnya sedalam yang ia kapabel, dengan tiap dorongan yang keras, dan seketika saja ia menikmati sensasi terbakar itu A?a,?aEs dan ia tahu ia tidak kapabel membendungnya lebih lama lagi. Ketika dikala penisnya melesak jauh ke dalam Miss V calon istri putranya, menyemburkan cairan air mani yang banyak ke dalam kandungannya, ia menikmati tubuh Dina menegang dan orgasme untuk sekali lagi.

Dicabutnya batang penisnya keluar, menyaksikan lelehan air mani yang mengalir turun di pahanya menuju ke kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum. “Dia akan menunggu di kendaraan beroda empat, Dina…”

Dina bangkit, masih menggelenyar sebab sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdetak dan bocor. “Mmm, baiklah Papah.

Ia mempertimbangkan untuk mengerjakan “kulturnya” dan dan mengorek air mani Papah Doni dari pahanya dengan jari tangan kirinya yang dilingkari oleh cincin berlian pemberian Doni.

Ketika ia melihat mempelai wanita ia masuk ke dalam kendaraan beroda empat, telah rapi dan bersih, kelihatan segar serta berbinar wajahnya dan siap untuk upacara pernikahan, meski bayang-bayangnya yang terpantul dari kaca kendaraan beroda empat merupakan dikala Dina memperhatikan ideal di matanya dan menjilat spermanya dari cincin berlian pemberian putranya itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerita Seks © 2020 Frontier Theme
%d bloggers like this: